Enter your keyword

MATCHMAKING SAPPK ITB dan INDONESIA PROJECTS AUSTRALIAN NATIONAL UNIVERSITY

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Oleh : Admin

Oleh Agus S. Ekomadyo, KK Perancangan Arsitektur, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.

Matchmaking sendiri punya pengertian membuat beberapa hal menjadi bertemu. Dengan semangat ini, peneliti yang punya basis keilmuan desain arsitektur mencoba mempertemukan pemikiran dengan Professor Budy P. Resosudarmo, ahli ekonomi pembangunan yang memimpin Indonesia Project (IP) di Australia National University (ANU) di Canberra. Memadukan dua disiplin, desain arsitektur dan ekonomi pembangunan, sebenarnya sudah membutuhkan proses untuk “match”.

Proses untuk mendapatkan match diawali dengan diskusi tentang “pasar”, berbasis track record peneliti yang banyak melihat arsitektur pasar sebagai ruang ekonomi dan kultural. Berbekal teori Market Agencement dari Actor-Network Theory, diskusi kemudian berkembang bagaimana desain arsitektur bisa ikut memasarkan gagasan tentang lingkungan dalam pengembangan kawasan. “Marketization of Sustainability” menjadi tagline untuk kegiatan Matchmaking ini, karena isu-isu Sustainability yang banyak memperdulikan keberlanjutan bumi dari aspek lingkungan, akan dipertimbangkan pelaku pasar jika punya nilai ekonomi. Dalam beberapa kasus, arsitek berhasil “memasarkan” Sustainability lewat mendesain ruang terbuka hijau dengan disisipkan fungsi-fungsi komersial di mana konsumen mau membayar lebih karena ada suasana berbeda yang disajikan.

Beyond Matchmaking, sebagai Head of Indonesia Project, pak Budy mendorong supaya peneliti di ITB mulai menyiapkan diri untuk bekerja sama dengan ANU, terutama merespon isu Climate Change yang sedang menjadi perhatian Pemerintah Australia. Isu kolaboratif ini akan membutuhkan banyak diskusi, karena para peneliti akan punya rekam jejak masing-masing, sehingga perlu banyak “matchmaking”. Terutama dalam disiplin arsitektur, perlu ada penelitian bagaiamana para arsitek merespon isu perubahan iklim sebagai salah satu strategi desain, terutama untuk memandu pengembang yang sudah punya pangsa pasar mereka yang sudah bersedia membayar lebih untuk membeli keselamatan berhuni lewat kepedulian terhadap lingkungan, termasuk mitigasi terhadap bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Diskusi dengan pak Budy Resosudarmo menjadi sangat bernas, karena bisa membangkitkan pemikiran untuk riset-riset lebih lanjut.

Home
Jadwal dan Acara Tautan Penting Informasi Publik