Enter your keyword

Dosen Arsitektur SAPPK ITB Presentasikan Penelitian Program Top Academic PRESENTING LPDP (WCU) pada Sesi Plantation Worlds, Plantation Architectures di Acara EAHN 2026

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Oleh : Admin

Bandung, Indonesia – Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.-Ing. Erika Yuni Astuti, berpartisipasi sebagai pemakalah dalam sesi akademik bertajuk Plantation Worlds, Plantation Architectures, pada acara 9th Biennal conference of European Architectural History Network – EAHN 2026 yang dilaksanakan pada tanggal 17-21 Juni di Universitas Aarhus, Denmark. Sesi ini mempertemukan para peneliti dan akademisi dari berbagai universitas dunia untuk mendiskusikan hubungan antara arsitektur, lanskap, serta sejarah sosial-ekologis yang berkembang di kawasan perkebunan.

Dalam kesempatan tersebut, Erika Astuti mempresentasikan penelitian berjudul “Architecture of the Plantation house a case of Gmelig Meyling buildings West Java – Indonesia”.

Sesi Plantation Worlds, Plantation Architectures berangkat dari pemahaman bahwa perkebunan telah menjadi ruang terjadinya berbagai bentuk eksploitasi manusia dan lingkungan sejak abad ke-16. Perdagangan komoditas seperti gula, tembakau, kopi, kapas, kayu, dan kakao yang melintasi Samudra Atlantik, Hindia, dan Pasifik telah membentuk jaringan ekonomi global yang turut memengaruhi perkembangan arsitektur dan lanskap di berbagai wilayah dunia.

Ruang-ruang yang terkait dengan dunia perkebunan mencakup rumah besar perkebunan (big houses), hacienda, penjara, menara pengawas, taman budak, komunitas maroon, pabrik pengolahan, hingga gudang penyimpanan. Seluruh elemen tersebut berkembang di atas lanskap yang diubah dan diorganisasi ulang sebagai sumber daya ekonomi.

Melalui sesi ini, para peserta mengeksplorasi bagaimana konsep perkebunan dapat dipahami tidak hanya sebagai lokasi produksi pertanian, tetapi juga sebagai sistem sosial, politik, ekonomi, dan arsitektural yang terhubung secara global. Diskusi menyoroti keterkaitan antara wilayah perkebunan di kawasan tropis dengan pusat-pusat kolonial di Eropa, termasuk pelabuhan, gudang, kantor perdagangan, hingga pusat perbelanjaan yang memperoleh manfaat dari ekonomi perkebunan.

Lebih jauh, sesi ini mengajukan pertanyaan mengenai batas-batas konseptual perkebunan dan bagaimana model tersebut dapat membuka perspektif baru dalam penulisan sejarah arsitektur. Para peserta juga membahas berbagai bentuk resistensi terhadap sistem perkebunan, termasuk komunitas maroon, pelarian budak, permukiman kecil, serta praktik-praktik hidup dan bertani yang berkembang di luar logika kapitalisme perkebunan.

Partisipasi Erika Astuti dalam forum internasional ini menunjukkan kontribusi aktif SAPPK ITB dalam pengembangan kajian sejarah arsitektur, lanskap, dan lingkungan pada skala global, sekaligus memperkuat posisi penelitian Indonesia dalam diskursus akademik internasional mengenai warisan perkebunan dan transformasi ruang kolonial.

Panel presentasi Arsitektur Perkebunan Dunia Perkebunan dengan Koordinator Dr. Rixt Woudstra dan Dr. Will Davies: https://konferencer.au.dk/eahn26/call-for-papers-1/sessions-1

Dokumentasi:

Acara Pembukaan EAHN Aarhus, 17 Juni 2026

Seluruh panel presenter Presentation Plantation Archtecture, 19 Juni 2026, dari kiri ke kanan Elena M’Bouroukounda (Columbia University GSAPP), Erika Yuni Astuti (Institut Teknologi Bandung), Christy Anderson (University of Toronto), Hélène Frichot (University of Melbourne), Rixt Woudstra (University of Amsterdam), Kenny Cupers (University of Basel), Will Davies (Universita Della Svizzera Itailana).

Home
Jadwal dan Acara Tautan Penting Informasi Publik