Disertasi Surjamanto

PENGARUH KARAKTERISTIK FISIK TERHADAP FENOMENA PULAU PANAS (HEAT ISLAND) KAWASAN KOTA DI BANDUNG

Surjamanto Wonorahardjo – NIM : 35205003

Pengendalian kualitas lingkungan thermal kawasan kota semakin dibutuhkan seiring dengan kenaikan temperatur udara kawasan kota dan terbentuknya pulau panas (P2). Dalam penelitian disertasi ini dikaji pengaruh karakteristik fisik kawasan kota , yaitu konfigurasi massa bangunan (KMB) dan tata guna lahan (TGL), terhadap fenomena P2 di kawasan perkotaan. KMB merujuk pada aspek bentuk dan material bangunan, sedangkan TGL merujuk pada fungsi kawasan dan distribusinya. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu: 1) karakterisasi lingkungan fisik dan lingkungan thermal kawasan kota , 2) kajian fenomena pulau panas kawasan kota sebagai fungsi fisik kawasan kota , serta 3) kajian strategi pengendaliannya.

Sebanyak 25 kawasan kota di Bandung yang memiliki karakteristik fisik beragam dipilih sebagai kasus studi di mana 10 di antara akan dikaji secara mendalam. Pada masing-masing kawasan kota ditentukan 6 zona berdiameter 300 m, untuk kemudian dikarakterisasi fisik dan lingkungan thermalnya dengan memanfaatkan data lapangan dan citra satelit Landsat ETM+. Aspek fisik yang dikaji meliputi aspect ratio (AR), kelangsingan bangunan (slenderness ratio, SR), ratio luas selubung / volume ruang (RD), orientasi bangunan atau rasio orientasi (RO), sifat bahan bangunan (berat dan ringan), koefisien dasar bangunan (KDB), koefisien lantai bangunan (KLB), ratio luas jalan / luas kawasan (RJ), ratio volume pohon / luas kawasan (RP), dan elevasi kawasan. Sedangkan aspek lingkungan thermal yang digunakan sebagai parameter kualitas fisik kawasan kota terdiri atas temperatur udara pada pukul 07.00 hingga 17.00 yang diambil dalam interval 1 jam, laju naik dan turun temperatur udara, serta nilai dan waktu terjadinya temperatur udara maksimum.

Analisis menunjukkan bahwa aspek bentuk dan material dalam kawasan kota secara signifikan mempengaruhi kualitas lingkungan thermalnya. Aspek bentuk berupa kelangsingan (SR) dan kepadatan (volume bangunan) memerangkap udara pagi hari (thermal resonator effect) sehingga menaikkan temperaturnya, sedangkan material berupa luas dinding timur dan jalan menerima dan melepas kalor ke udara sore hari (thermal reservoir effect) sehingga menaikkan temperaturnya.

Berdasarkan kepadatan dan kelangsingan bangunannya, KMB kawasan kota dapat dibedakan menjadi; 1) horisontal-renggang, 2) horisontal-padat, 3) vertikal­renggang dan 4) vertikal-padat. Hasil studi ini menunjukkan bahwa semakin rapat jarak antar bangunan di suatu kawasan, maka semakin besar efek pemerangkapannya. Aspek material menerangkan kapasitas kalor masing-masing bentuk di mana semakin vertikal bangunan-bangunannya maka lingkungan thermalnya semakin dipengaruhi oleh luas dinding timurnya dan semakin horisontal maka lingkungan thermalnya semakin dipengaruhi luas jalan. Pengaruh karakteristik fisik terhadap fenomena pulau panas kawasan dirumuskan sebagai kondisi lingkungan thermal yang dibentuk oleh perbedaan temperatur udara karena dipengaruhi oleh sedikitnya dua karakter bentuk KMB yang berbeda.

Simulasi pengendalian fenomena P2 pada berbagai fungsi kawasan di Bandung menunjukkan bahwa kawasan pusat bisnis dan perdagangan Asia Afrika memiliki intensitas P2 dan potensi penurunan intensitas P2 terbesar, sedangkan kawasan kampus ITB dan ruko Setrasari memiliki intensitas P2 dan potensi perbaikan terendah. Intensitas P2 rata-rata kota Bandung sebesar 3,58°C pada pagi hari dan 2,59°C pada sore hari. Intervensi pada aspek bentuk mampu menurunkan temperatur udara pagi rata-rata sebesar 0,66°C di mana kelangsingan bangunan jauh lebih efektif menurunkan temperatur udara pagi dibanding volume bangunan. Sedangkan intervensi pada luas dinding dan jalan cukup efektif menurunkan temperatur udara sore dengan rata-rata penurunan sebesar 0,22°C. Pengolahan aspek bentuk seperti penerapan konsep breeze way dan wind scoop lebih sesuai untuk kawasan yang baru atau sedang berkembang, sedangkan untuk kawasan yang telah terbangun lebih sesuai menerapkan intervensi aspek material seperti pengoptimalan pembayangan pada jalan dan gedung, meningkatkan albedo, mengganti material berat dengan material ringan berinsulasi thermal tinggi.

Kata kunci : pulau panas, konfigurasi massa bangunan, tata guna lahan, Landsat ETM+, Bandung .

Berita Terkait