
JAKARTA —Tantangan pengelolaan kota dan wilayah di Indonesia kini makin kompleks. Masalah banjir, kemacetan, hingga krisis lingkungan tidak lagi bisa diselesaikan dengan cara-cara konvensional atau sekadar menggambar peta fisik di atas kertas.
Dalam Webinar Nasional DJTR Series Eps. 231 bertajuk “Masa Depan Penataan Ruang Untuk Pembangunan Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh BPSDM Kementerian ATR/BPN, Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D. (Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB) membeberkan paradigma baru dalam menata kota masa depan.
Prof. Ridwan menekankan bahwa persoalan tata ruang adalah sebuah wicked problem (masalah berbelit). Untuk menghindarinya, perencanaan kota harus lepas dari jebakan junk planning—yaitu perencanaan kosmetik yang terlihat hijau di atas kertas tetapi gagal mengantisipasi dampak ekologis dan sosial nyata di lapangan.
6 Peran Baru Perencana Kota menuju Kota Generasi Mendatang
Jika di masa lalu seorang perencana kota diidentikkan sebagai “arsitek gambar fisik” yang menghasilkan dokumen statis, Prof. Ridwan memaparkan evolusi peran perencana perkotaan modern yang didorong oleh transformasi digital (lihat pula tautan berikut https://fgb.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/26/2026/02/Prof.-Ridwan-2026-3001-Urban-Planning-in-the-Age-of-Algorithm-FGB-RS02-share.pdf):
- System Designer: Merancang arsitektur sistem tata ruang digital dan menetapkan parameter batas daya dukung lingkungan (planetary boundaries) secara presisi.
- Data Scientist & Policy Auditor: Mengolah big data spasial serta mengaudit bias algoritmik lokasi guna memastikan keadilan akses ruang bagi masyarakat.
- Generative Co-Designer: Memanfaatkan Generative AI untuk mengeksplorasi dan mensimulasikan ribuan skenario alternatif desain ruang secara instan.
- Social Mobilization & Sentiment Analyst: Memetakan emosi, persepsi, dan aspirasi riil warga kota melalui analisis data media sosial dan Natural Language Processing (NLP).
- Immersive Communicator: Menyajikan rencana tata ruang rumit ke dalam visualisasi Augmented/Virtual Reality (AR/VR) dan Digital Twin yang intuitif dan mudah dipahami publik.
- Adaptive Manager: Mengelola tata ruang yang fleksibel dan responsif (adaptive zoning) berdasarkan masukan data real-time dari sensor kota (IoT).
Mengintegrasikan Ekologi, Digital Twin, dan Inklusivitas
Selain peran perencana, webinar tersebut menggarisbawahi 3 pilar kunci tata ruang masa depan. Pertama, Prinsip WEHAB & Sponge City: Menjadikan batas Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai fondasi mutlak. Mengadopsi konsep Sponge City (seperti di Wuhan & Shenzhen) yang mengubah drainase beton menjadi taman retensi guna menyerap hingga 70% air hujan. Kedua, Urban Digital Twin 3D: Menggunakan model kota digital 3D sebelum pembangunan fisik dilakukan, sehingga dampak iklim mikro, arah angin, dan risiko banjir dapat diprediksi secara akurat. Ketiga, Keadilan Spasial (Spatial Justice): Menjamin ketersediaan trotoar yang ramah pejalan kaki (walkable), hunian terjangkau (affordable housing), serta ruang publik inklusif yang dapat diakses oleh semua kelompok masyarakat.
Relevansi dengan Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan (DitPro) ITB
Paparan materi berstandar internasional ini menunjukkan pentingnya pembaharuan kapasitas (upskilling & reskilling) SDM perencana, baik di lingkungan kementerian, pemerintah daerah, maupun sektor swasta.
Guna menjembatani kebutuhan industri dan regulasi terhadap kompetensi spasial modern tersebut, Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan (DitPro) ITB hadir memfasilitasi kebutuhan ini melalui ekosistem Pendidikan Non-Gelar. Beberapa hal penting di antaranya ialah sebagai berikut. Pertama, Program Microcredentials & Short Courses: Menyediakan modul-modul pelatihan singkat yang snackable namun padat riset, mencakup pemodelan Urban Digital Twin, GeoAI Analytics, hingga Risk-Based Spatial Planning. Kedua, Sertifikasi Profesi Terstandar: Memastikan para praktisi dan ASN memiliki sertifikasi kompetensi resmi untuk mendukung integrasi sistem perizinan digital (seperti RDTR terintegrasi OSS). Ketiga, Jembatan Akademia dan Praktisi: Menghadirkan kepakaran para Guru Besar dan pakar ITB langsung kepada para eksekutif dan profesional di lapangan tanpa harus menempuh jalur pendidikan reguler yang panjang.
“Stay hungry, stay foolish,” tutur Prof. Ridwan di akhir refleksinya menngambil kutipan Stave Jobs untuk kemudian menanggapinya dari sisi tata ruang berkelanjutan, agar para praktisi ruang terus haus akan pembaruan ilmu dan berani melakukan inovasi demi menciptakan kota-kota Indonesia yang berketahanan (resilient) dan berkelanjutan.
“Stay hungry, stay foolish,” tutur Prof. Ridwan di akhir refleksinya menngambil kutipan Stave Jobs untuk kemudian menanggapinya dari sisi tata ruang berkelanjutan, agar para praktisi ruang terus haus akan pembaruan ilmu dan berani melakukan inovasi demi menciptakan kota-kota Indonesia yang berketahanan (resilient) dan berkelanjutan.