Enter your keyword

Soft Launch and Consultation of Guidelines for Designing Resilient Housing and Settlement: Beyond Housing Guidelines

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Oleh : Admin

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, bersama Habitat for Humanity Indonesia, mengadakan seminar yang bertajukkan “Soft Launch and Consultation of Guidelines for Designing Resilient Housing and Settlement: Beyond Housing Guidelines” di Ruangan Seminar, Lantai 2 Labtex IXA, Kampus ITB Ganesha.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperkenalkan draf pedoman yang tengah dikembangkan oleh Habitat for Humanity Indonesia sekaligus memperoleh masukan dari akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan. Masukan tersebut diharapkan dapat memperkuat substansi serta mendukung implementasi pedoman dalam pengembangan hunian dan permukiman yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Seminar dibuka melalui sambutan dari Dr. Allis Nurdini selaku Wakil Dekan Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB dan Arwin Soelaksono selaku Program Director Habitat for Humanity Indonesia. Sesi diskusi kemudian dipandu oleh Karina Putri, S.T., M.A., Ph.D., Dosen SAPPK ITB, selaku moderator diskusi.

Pemaparan draf Guidelines for Designing Resilient Housing and Settlement: Beyond Housing Guidelines disampaikan oleh tim Habitat for Humanity Indonesia antara lain:

  1. Karmen Dasen, Program Development Manager, Habitat for Humanity Indonesia;
  2. Dwi Agustanti, Government Relations and Advocacy Partnership Manager, Habitat for Humanity Indonesia;
  3. Silvi Cannoux, intern Habitat for Humanity Indonesia dan mahasiswa Polytech, University of New Orleans, Prancis; dan
  4. Aribah Farzeen Shah, intern Habitat for Humanity Indonesia dan mahasiswa University of the South, Sewanee, Amerika Serikat.

Pedoman tersebut dikembangkan sebagai panduan praktis untuk merancang hunian dan permukiman yang mampu menghadapi dampak perubahan iklim. Tidak hanya membahas aspek fisik bangunan, pedoman ini menggunakan pendekatan housing system yang mengintegrasikan keterjangkauan hunian, keamanan bermukim, penyediaan layanan dasar, kelayakhunian, ketahanan iklim, strategi passive cooling, prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain pemaparan draf pedoman, seminar ini menghadirkan dua pembicara dari SAPPK ITB, yaitu Dr. Saut Sagala, Ketua Program Studi Magister dan Doktor Perencanaan Wilayah dan Kota, serta Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T., Ketua Program Studi Sarjana Arsitektur, dan Profesi Arsitek (PPAr).

Dalam pemaparannya, Dr. Saut Sagala menekankan pentingnya mengintegrasikan ketahanan perumahan ke dalam perencanaan wilayah melalui pendekatan berbasis risiko, pemeliharaan berkelanjutan, prinsip Build Back Better, serta kolaborasi multipihak. Sementara itu, Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko membahas peran arsitektur dalam menghadapi bencana, ketimpangan, dan perubahan iklim melalui pemanfaatan material berbasis hayati seperti kayu dan bambu serta penerapan desain yang berorientasi pada kemanusiaan.

Melalui kegiatan ini, SAPPK ITB dan Habitat for Humanity Indonesia mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menghasilkan pedoman yang dapat digunakan untuk mendukung pengembangan hunian dan permukiman yang aman, layak, terjangkau, inklusif, serta tangguh terhadap perubahan iklim.

Home
Jadwal dan Acara Tautan Penting Informasi Publik