Enter your keyword

Pendidikan Sepanjang Hayat (Lifelong Learning) dan Peran Strategis Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan ITB

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Oleh : Admin

Oleh: Ridwan Sutriadi, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, SAPPK, ITB (Tim Penilai Independen ASN Berprestasi Provinsi Jawa Barat 2023-2026).

https://execedu.icecenter.itb.ac.id

Pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning) adalah paradigma pendidikan modern yang menegaskan bahwa proses belajar tidak berhenti setelah seseorang meraih gelar akademik formal. Di tengah laju disrupsi teknologi, perubahan tata kelola pemerintahan, dan dinamika sosial-ekonomi yang sangat cepat, profesional dari berbagai sektor, termasuk diantaranya ialah Aparatur Sipil Negara (ASN)—dituntut untuk terus melakukan penguatan kompetensi (upskilling) dan pembekalan keterampilan baru (reskilling).

Dalam ekosistem ini, Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan (DitPro) ITB mengambil peran sentral sebagai simpul transformasi (transformation hub) yang menghubungkan kepakaran akademik ITB dengan kebutuhan riil para profesional di lapangan. Melalui berbagai program executive education, kursus singkat, sertifikasi profesional, microcredentials, hingga kemitraan strategis, DitPro ITB menerjemahkan konsep lifelong learning menjadi aksi nyata yang berdampak.

Cerminan Lifelong Learning Melalui Contoh Kasus: Pedoman Seleksi ASN Berprestasi Jawa Barat 2026

Dokumen Pedoman Seleksi ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 (https://heyzine.com/flip-book/54ba8c7fe9.html) memberikan contoh spesifik tentang bagaimana urgensi pendidikan profesional berkelanjutan terefleksi dalam kebijakan dan manajemen talenta di birokrasi:

  1. Transformasi Berbasis Kompetensi dan Kinerja (Merit System) Pedoman tersebut menegaskan pelaksanaan sistem merit berbasis kualifikasi, kompetensi, dan kinerja sesuai amanat UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN. Untuk memenuhi standar ini, pegawai negeri (baik PNS maupun PPPK) dari level pelaksana, pengawas, administrator, hingga Pejabat Pimpinan Tinggi (JPT) diwajibkan untuk terus mengasah kapasitas diri. DitPro ITB hadir menyediakan sarana pembelajaran terstruktur agar ASN mampu menjawab tantangan pekerjaan yang selalu berkembang.
  2. Penguatan Karakter, Nilai BerAKHLAK, dan Kearifan Lokal (Pancawaluya) Dalam pedoman ini, kriteria penilaian ASN Berprestasi diukur melalui integrasi nilai nasional BerAKHLAK dan kearifan lokal Jawa Barat Pancawaluya (Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer).   Salah satu contohnya ialah karakter Pinter (kompeten, adaptif, dan inovatif) dan Singer (sigap, produktif, dan solutif) hanya dapat dicapai apabila para profesional berada dalam iklim pembelajaran yang berkesinambungan. DitPro ITB menyusun kurikulum pendidikan profesional yang tidak hanya menajamkan hard skills teknis, tetapi juga soft skills kepemimpinan dan etika profesi.
  3. Penyelarasan Kompetensi dengan Ragam Bidang Pembangunan

Pedoman seleksi menetapkan 16 bidang karya inovatif/inspiratif—mulai dari Pangan Pertanian, Energi Baru Terbarukan, Transportasi, TIK, Lingkungan Hidup, Tata Ruang, Manajemen Pemerintahan, hingga Pendidikan dan Kesehatan. Keberagaman bidang ini mencerminkan kompleksnya tantangan publik yang butuh intervensi keilmuan mutakhir. DitPro ITB mengambil peran sebagai penyedia program pendidikan berdaya guna yang dapat disesuaikan (customized modules) untuk tiap spektrum bidang pembangunan tersebut.

  • Keterlibatan Multi-Stakeholder dalam Penilaian dan Pembelajaran

Kehadiran unsur akademisi ITB (seperti penunjukan pimpinan DitPro ITB dalam Tim Penilai Seleksi ASN Berprestasi Jabar 2026) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dan penilaian profesional membutuhkan sinergi erat antara pemerintah dan perguruan tinggi. Pola hubungan ini mencerminkan konsep Quadruple/Penta-Helix yang dijalankan oleh DitPro ITB untuk memastikan riset akademik dapat langsung diterapkan (applied knowledge) dalam pelayanan publik.

Relevansi dan Komitmen DitPro ITB

Melalui contoh program seleksi dan penguatan kapasitas ASN di atas, peran DitPro ITB dalam menegakkan budaya lifelong learning tercermin melalui beberapa pilar utama:

  • Inklusivitas & Aksesibilitas Pembelajaran: Menyediakan portofolio pendidikan berkelanjutan yang dapat diakses oleh praktisi pemerintahan, industri swasta, hingga masyarakat umum di berbagai tahapan karier.
  • Responsivitas terhadap Tantangan Zaman: Merancang program-program pelatihan singkat dan sertifikasi yang fleksibel serta relevan dengan kebutuhan industri digital, green transition, dan tata kelola berbasis data.
  • Mendorong Budaya Inovasi yang Berdampak: Membantu para peserta pendidikan profesional untuk menciptakan karya inovatif dan inspiratif yang memiliki kebaruan (novelty), daya ungkit (leverage), serta keberlanjutan (sustainability) bagi organisasi dan masyarakat luas.

Program Eksekutif Unggulan: Paket Pelatihan Adhirajasa Ganesha

Sebagai wujud nyata dari resposivitas DitPro ITB terhadap kebutuhan pengembangan kepemimpinan dan kapabilitas korporasi, hadir program eksekutif unggulan Adhirajasa Ganesha. Pelatihan intensif dua hari ini awalnya dirancang sebagai program seleksi dan pelatihan strategis bagi perusahaan/unit bisnis di bawah pengelolaan Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL) ITB. Melihat efektivitas dan keberhasilannya dalam mentransformasikan potensi kepemimpinan serta ketajaman eksekusi para eksekutif, program Adhirajasa Ganesha kini diproyeksikan menjadi modul acuan (template) standar pendidikan eksekutif (executive education) yang dapat dikustomisasi untuk berbagai BUMN, korporasi swasta nasional, hingga perusahaan multinasional. Melalui pendekatan simulasi kepemimpinan, pemecahan masalah strategis, dan integrasi kepakaran multidisiplin ITB, paket pelatihan ini menjadi jembatan akselerasi kompetensi agar para pemimpin organisasi mampu bernavigasi di tengah ketidakpastian pasar global dan disrupsi teknologi.

Penutup

Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan dalam mengawal agenda lifelong learning, Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan (DitPro) ITB secara konsisten mengukuhkan peran strategisnya melalui jalur pendidikan non-gelar yang adaptif dan berdampak langsung pada penguatan daya saing SDM nasional. Melalui akselerasi program microcredentials yang fleksibel dan modular, penguatan kepastian standar kompetensi industri berbasis lisensi BNSP melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P1 ITB, serta penyediaan paket eksekutif unggulan seperti program Adhirajasa Ganesha, DitPro ITB terus mentransformasikan riset dan kepakaran akademik menjadi modul-modul pelatihan terapan, living lab, serta program sertifikasi profesi yang dirancang untuk menjawab tantangan tata kelola publik dan disrupsi industri masa depan.

Home
Jadwal dan Acara Tautan Penting Informasi Publik