Ridwan Sutriadi dosen SAPPK ITB
Merdeka itu bukan cuma soal bebas dari penjajahan masa lalu, tapi juga tentang kebebasan buat bersaing secara sejajar di panggung dunia. Menjelang momen 17 Agustus tahun ini, semangat kemerdekaan rasanya makin relevan kalau kita bicara soal masa depan Gen Z. Apalagi buat anak muda Bandung, jangkauan main kita sebetulnya sudah bukan cuma skala lokal atau nasional lagi, melainkan internasional!
Lewat skema Sister City (Kota Kembar), Bandung sudah lama mengikat kerja sama global dengan berbagai kota maju dunia—mulai dari Suwon di Korea Selatan, Braunschweig di Jerman, sampai Namur di Belgia. Tapi pertanyaannya: apakah kita cuma jadi penonton saat kota kita sibuk berkolaborasi dengan dunia internasional?
Konektivitas Makin Terbuka: Momentum Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara
Langkah Bandung bermain di ranah global makin nyata dengan adanya momentum reaktivasi Bandara Husein Sastranegara. Pembukaan kembali akses penerbangan di pusat kota ini bukan sekadar urusan kemudahan mudik atau liburan, melainkan gerbang utama masuknya mobilitas internasional, investasi, hingga pertukaran tenaga ahli secara langsung ke jantung Kota Bandung.
Penerbangan yang kembali hidup di Bandara Husein menjadi simbol bahwa pintu Bandung untuk dunia—dan sebaliknya—makin terbuka lebar. Arus teknologi, standar industri baru, serta kolaborasi lintas negara kini mendarat lebih dekat dari sebelumnya.
Kenapa Sister City dan Bandara Husein Bikin Kita Wajib Up-Skill?
Ketika jaringan Sister City makin aktif dan akses udara melalui Bandara Husein kembali beroperasi optimal, standar industri di Bandung secara otomatis ikut naik. Kerja sama di sektor smart city, industri kreatif, hingga teknologi lingkungan membawa standar kualifikasi global langsung ke lapangan kerja lokal.
Di titik inilah Gen Z harus sadar: ijazah formal saja tidak lagi cukup.
Peluang dari kolaborasi internasional ini tidak akan otomatis jatuh ke tangan kita kalau keterampilan yang kita miliki masih menggunakan “pola lama”. Untuk bisa mengambil peran—bukan sekadar jadi penonton di rumah sendiri—pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) dan pendidikan profesional berkelanjutan (continuing professional education) menjadi kunci mutlak.
Aksi Nyata: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kolaborasi internasional bukan cuma urusan pemerintah. Mahasiswa dan masyarakat umum punya peran krusial untuk mengisi ruang kolaborasi ini secara konkrit.
Peran Mahasiswa ITB
Setidaknya terdapat tiga hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa ITB. Inovasi Terapan & Smart Solution. Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan riset, proyek akhir, atau teknologi tepat guna yang dapat menjawab tantangan perkotaan Bandung dan mengadaptasi best practice dari kota-kota mitra Sister City. Kedua, ialah adanya sertifikasi & Kompetensi Berstandar Internasional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara aktif mengikuti program pendidikan profesional berkelanjutan, pelatihan bersertifikat, dan lisensi keahlian teknik/perencanaan agar siap terjun dalam proyek kolaborasi lintas negara. Ketiga, ialah aktivitas Duta Akademik & Pertukaran Riset. Kegiatan ini dapat menjadi jembatan komunikasi ilmiah dan pertukaran pengetahuan (knowledge transfer) antara laboratorium kampus dengan institusi global.
Peran Masyarakat Kota Bandung
Ada tiga hal penting terkait dengan peran masyarakat Kota Bandung yang tidak dapat ditunda, pertama ialah Peningkatan Kualitas Produk UMKM. Hal ini lebih menekankan kepada pelaku usaha lokal dapat melakukan up-skilling dalam hal standar kualitas, kemasan, dan pemasaran digital agar produk khas Bandung layak ekspor ke kota kembar. Kedua, ialah fokus kepada Edukasi Komunitas dan Lifelong Learning. Dalam hal ini, lebih menekankan kepada kegiatan untuk mengikuti pelatihan vokasi dan program sertifikasi komunitas untuk memperbarui keterampilan kerja sesuai tuntutan era digital. Ketiga, ialah Hospitality & Budaya Sadar Wisata. Hal ini lebih menekankan kepada sudut pandang sebagai tuan rumah yang adaptif, ramah, dan profesional dalam menyambut wisatawan maupun investor asing yang mendarat di Bandara Husein.
Makna Merdeka Masa Kini: Punya Daya Saing Global
Memaknai kemerdekaan di pertengahan Agustus ini berarti mengambil tanggung jawab untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Pendidikan profesional berkelanjutan, seperti mengambil sertifikasi keahlian, mengikuti pelatihan kompetensi modular, hingga memperbarui pemahaman teknologi terkini, adalah cara terbaik mengisi kemerdekaan.
Dengan terus melakukan up-skill dan re-skill, Gen Z Bandung tidak hanya siap bersaing di dalam negeri, tetapi juga mampu berdiri sejajar dengan para profesional dari kota-kota mitra di seluruh dunia.