Kode MK: PL-4101 | Mata Kuliah: Perencanaan Kota Baru (New Town Planning) | Program Studi: S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK ITB) | Bobot: 3 SKS | Sifat: Pilihan Utama / Spesialisasi Perencanaan Spasial | Pengampu: Ridwan Sutriadi
The Big Reality: Kota Lama yang Makin Sesak & Meletihkan
Kalian merasa nggak sih kalau kota-kota besar tempat kita hidup sekarang makin sulit buat diajak “kompromi”? Kemacetan yang menguras energi, harga rumah yang makin tak terjangkau, taman kota yang minim, hingga ancaman krisis ekologi dan polusi udara yang bikin burnout setiap hari. Kebanyakan kota lama kita dirancang dengan paradigma masa lalu yang car-centric, sarat spekulasi lahan, dan sering kali mengabaikan kualitas hidup warganya.
Tapi pertanyaannya: apakah kita cuma bisa pasrah atau pindah? Jawabannya: we design the alternative!
Pembangunan kota baru (New Town Planning)—mulai dari kawasan mandiri, aerotropolis, hingga proyek ibu kota baru—sedang masif terjadi di seluruh dunia. Namun, kalau kota baru cuma menyalin formula lama (bikin jalan tol berlapis, mal megah, dan klaster perumahan elitis yang eksklusif), kita cuma memindahkan masalah ke tempat baru. Di kelas Perencanaan Kota Baru ini, kita akan belajar cara merancang kota dari nol (from scratch) yang tidak sekadar megah, tapi inklusif, manusiawi, tangguh secara ekologis, dan adil antargenerasi.
Apa yang Bakal Kita Bedah & Rancang di Kelas Ini?
Di mata kuliah ini, kita akan memosisikan diri sebagai planner masa depan yang berani membongkar cara pandang lama. Pembahasan dibuka dengan membedah paradigma Smart Sustainable Cities (SSC) dan Next Generation Cities (NGC). Kita akan mengkritik skema pembangunan kota baru yang market-driven dan belajar bagaimana mengintegrasikan prinsip Urban Commons—seperti ketersediaan hunian terjangkau (housing affordability), perlindungan third places non-komersial, serta penyediaan ruang publik yang inklusif bagi semua kelompok masyarakat.
Selanjutnya, kita akan masuk ke dalam jantung metodologi perencanaan kota baru menggunakan kerangka klasik Chapin, Kaiser, dan Godschalk untuk melakukan analisis Best Use. Kalian akan belajar menyusun analisis kesesuaian lahan (Land Suitability Analysis), menghitung batas kemampuan alam melalui Carrying Capacity Analysis (CCA), hingga mengevaluasi Developability dan aspek perseptual (Legibility/Imageability) agar kota baru yang dirancang tidak hanya layak secara ekonomi, tapi juga memiliki “jiwa” dan karakter ruang yang kuat.
Tidak berhenti di sana, kita akan belajar cara menavigasi kondisi nyata lapangan melalui pendekatan Strategic Choice Approach (SCA) karya Friend & Hickling. Perencanaan kota baru berskala besar adalah contoh nyata Planning Under Pressure. Kalian akan dilatih mengambil keputusan strategis di tengah tiga jenis ketidakpastian: ketidakpastian data lingkungan (Working Environment – UE), ketidakpastian komitmen pemangku kepentingan/investor (Related Decisions – UR), serta konflik nilai antara profitabilitas ekonomi dan keadilan sosial (Guiding Values – UV).

Sebagai penutup, fokus pembahasan akan mengurai krusialnya Urban-Rural Linkages dan kedaulatan wilayah. Kita akan merancang kota baru yang tidak bersikap ekstraktif terhadap desa sekitarnya, melainkan membangun hubungan simbiotis melalui penetapan Urban Growth Boundary (UGB), perlindungan lahan pertanian produktif, serta penguatan Digital Commons untuk mendukung mobilitas dan pola kerja fleksibel (hybrid/remote) antara kota dan desa.
Output & Portofolio: Menjadi Architect of Future Cities
Melalui matakuliah ini, kalian tidak hanya membaca teori di atas kertas. Hasil akhir pembelajaran diarahkan menjadi Master Plan & Concept Brief Kota Baru yang komprehensif—mencakup peta kesesuaian lahan, dokumen pilihan strategis tata kelola, hingga rancangan panduan rancang kota (Urban Design Guidelines) berbasis walkability dan commons. Portofolio ini akan menjadi bukti nyata bahwa kalian siap menjadi perencana wilayah dan kota yang menjawab tantangan zaman. Sebagai tambahan, tahun lalu, presentasi tugas besar dari mata kuliah ini dipresentasikan dan di uji bukan hanya di depan dosen pengampu, tetapi juga dinilai oleh tim yang menangani perkotaan dari Bappenas.
“Jangan biarkan masa depan kota kita dirancang oleh logika yang membuat kita terasing. Mari pelajari cara merancang kota baru yang memulihkan manusia, merawat alam, dan menagih hak masa depan!”