Enter your keyword

Percepatan SDG 6 Melalui Sinkronisasi Kemenko PMK: Sinergi Ekosistem Perkotaan Berkelanjutan dan Tata Ruang Berbasis Pembangunan Manusia

Percepatan SDG 6 Melalui Sinkronisasi Kemenko PMK: Sinergi Ekosistem Perkotaan Berkelanjutan dan Tata Ruang Berbasis Pembangunan Manusia

Oleh: Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D. (Guru Besar SAPPK ITB)

Dalam rangka memperkuat sinergi kebijakan lintas sektor dan akselerasi pencapaian target pembangunan berkelanjutan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengundang Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota, SAPPK ITB, Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D., sebagai narasumber utama dalam Rapat Strategi Sinkronisasi, Koordinasi, dan Pengendalian (SKP). Pertemuan strategis ini diselenggarakan pada hari Senin, 24 Agustus 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB secara hibrida, berlokasi di Ruang Kerja Deputi 3 Lt. 12 Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, serta disiarkan secara daring melalui Zoom Meeting. Forum ini berfokus pada pembahasan strategi percepatan pencapaian SDG 6, khususnya penyediaan air minum dan sanitasi aman yang berkelanjutan dimana kemudian diintegrasikan secara utuh ke dalam kerangka pengembangan ekosistem perkotaan dan wilayah di Indonesia.

Pada dasarnya, pembangunan manusia sejatinya bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi atau akumulasi PDRB, melainkan upaya memperluas pilihan, kebebasan, dan kapabilitas substansial warga untuk hidup sehat, terdidik, berdaya, dan bermartabat. Dalam forum SKP Kemenko PMK tersebut, penataan ruang perkotaan dan wilayah ditempatkan sebagai instrumen pendukung utama untuk menjamin penyediaan air minum aman dan sanitasi berkelanjutan secara adil. Ketersediaan air bersih yang terjamin selama 24 jam tiap harinya di dalam rumah, untuk kemudian membebaskan warga khususnya perempuan dan anak-anak dari beban pengumpulan air yang menyita waktu, memutus rantai penularan penyakit yang ada hubungannya dengan air, serta mencegah stunting demi melahirkan generasi penerus yang tangguh dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.

Penyelesaian atas persoalan kompleks air perkotaan menuntut pergeseran pandangan bahwa kota bukan sekadar lokus terjadinya masalah, melainkan instrumen strategis penyelesaiannya. Melalui pengintegrasian kerangka WEHAB (Water, Energy, Health, Agriculture, Biodiversity) yang memposisikan air sebagai penghubung utama seluruh ekosistem kehidupan, kota bertindak sebagai kendaraan utama penyelarasan. Pendekatan perancangan peka air (Water-Sensitive Urban Design) seperti kota spons, taman resapan, dan bioswale dirancang menyatu dengan zonasi ruang guna memulihkan fungsi hidrologis alami kawasan. Langkah ini dikombinasikan dengan keragaman tipologi wilayah, di mana wilayah metropolitan menerapkan jaringan terpusat sementara kawasan perdesaan dapat dikuatkan dengan teknologi tepat guna berbasis partisipasi warga.

Guna menanggapi ketidakpastian iklim dan dinamika politik-ekonomi lokal, para perencana kota dapat memanfaatkan Strategic Choice Approach (SCA) berbasis dimensi TOPP (Technology, Organisation, Process, Product) sebagai salah satu pendekatan. Dalam pelaksanaannya dapat berupa integrasi teknologi rendah karbon, jaringan pengukuran terdistribusi (District Metered Area), serta otomatisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mempermudah pemantauan kebocoran air (Non-Revenue Water) serta adanya efisiensi energi pengolahan secara real time (waktu nyata). Untuk konteks organisasi, kemitraan Quintuple Helix dapat diaktifkan melalui forum koordinasi lintas instansi dan pembagian peran yang tegas, sehingga keputusan investasi air dan sanitasi dapat dikunci ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) secara konsisten (level kabupaten/kota).

Sementara itu, memperkuat kapasitas kelembagaan dan keberlanjutan kapasitas teknis SDM di lapangan, Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan ITB dari awal tahun 2026 ini tengah menginisiasi pembentukan Water Academy yang berpusat di ITB Kampus Jatinangor. Inisiatif ini dirancang untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan terstruktur dan terjadwal mengenai pengelolaan air dalam perspektif kesisteman yang holistik. Pendekatan ini secara mendasar memadukan keterkaitan ke belakang (backward linkage), seperti perlindungan daerah tangkapan air hulu, konservasi DAS, dan neraca air alami dengan keterkaitan ke depan (forward linkage) yang mencakup utilisasi air olahan, efisiensi distribusi perkotaan, hingga pengelolaan daur ulang limbah cair industri dan domestik. Didukung oleh kemitraan strategis dengan salah satu pihak swasta yang menaruh perhatian terhadap pembangunan manusia, inisiatif ini memperkuat salah satu pilar utama kota generasi mendatang, yaitu penerapan ekonomi sirkular dan kerangka pembangunan lintas generasi (intergenerational development) guna menjamin keadilan ekologis dan kelangsungan sumber daya air bagi generasi masa depan.

Pada level strategis nasional, sistem infrastruktur air dan sanitasi juga memegang peran vital bukan hanya bagian penting dari sumberdaya alam, tetapi juga dapat diposisikan sebagai bagian dari konsep penyediaan infrastruktur ganda (Dual Infrastructure) guna menopang pelayanan publik harian sekaligus ketahanan serta pertahanan nasional saat kondisi darurat (dikaitkan dengan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumberdaya Nasional yang Tengah dimatangkan). Di sisi lain, untuk konteks standar pelayanan minimum (perkotaan), penerapan pengukuran kinerja berbasis standar internasional ISO 37120 (keberlanjutan kota), ISO 37122 (kota cerdas), dan ISO 37123 (ketangguhan kota) menjadi instrumen kritis dalam mendukung pengintroduksian dan pelaksanaan amanat penyusunan Rencana Penyelenggaraan Pengelolaan Pembangunan Perkotaan (RP2P). Kerangka indikator standar ini menjadi basis data kuantitatif untuk mensinkronkan tata kelola sarana dan prasarana di tingkat kabupaten/kota sebagaimana diamanatkan dalam Permendagri No. 24 Tahun 2024 sebagai aturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Perkotaan. Dengan menyatukan perlindungan sumber daya air hulu hingga titik konsumsi di hilir, kota-kota generasi mendatang di Indonesia tidak hanya mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim global, tetapi juga menjamin keadilan spasial serta kesejahteraan manusia yang berkelanjutan.

Penafian (Disclaimer):

Uraian pada tulisan ini berdasarkan buku-buku populer di bidang perencanaan kota berikut referensi ilmiah kontemporer. Untuk memberikan sajian yang menarik dan mudah dipahami, penyusunan draf pemikiran dibantu oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence) tanpa mengesampingkan esensi pola pikir perencana kota yang terus berkembang seiring perkembangan zaman dan teknologi sebagai alat bantu perencanaan. Seluruh isi tulisan merupakan refleksi akademis dan tidak mewakili posisi politik formal dari instansi manapun.