Oleh Ridwan Sutriadi, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, SAPPK, ITB
Terdapat beberapa hal penting dari buku yang diterbitkan oleh ITB Press pada tahun 2018 ini, seperti:
Konsep Teknopolis: Membahas konsep kota berbasis teknologi (technopolis), di mana pembangunan wilayah diintegrasikan dengan pusat riset, industri, dan inovasi digital.
Sudut Pandang Perencana: Mengulas tantangan serta strategi merancang kota masa depan dari kacamata disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota (Planologi). Inovasi Spasial: Menjelaskan bagaimana ruang kota harus beradaptasi terhadap disrupsi teknologi digital dan media sosial.
Adapun penjabaran per bab, setidaknya buku ini membahas tentang hal-hal berikut ini:
Introduksi Menuju Teknopolis
- Definisi: Teknopolis merupakan proses inovasi iptek yang terus dikembangkan untuk menjawab isu pembangunan kota dengan tetap peka terhadap lingkungan.
- Evolusi Konsep: Menelusuri hubungan teknologi dan bentuk kota dari era Electronic Cottage (1981), Intelligent City, hingga Ubiquitous City.
- Konstruksi Sosial: Menekankan bahwa tantangan kawasan berbasis iptek memerlukan pemahaman mendalam tentang struktur sosial dan pengaruh kekuasaan kelompok masyarakat.
Dari Budaya ke Teknologi
- Budaya Teknologi: Membedakan 3 jenis budaya manusia dalam memandang teknologi: Tool Using (hanya alat), Technocracies (sentral pendorong hidup), dan Technopolies (teknologi meredefinisi realita hidup).
- Manfaat Ekonomi: Teknologi meningkatkan efisiensi modal, menghemat waktu produksi, mendorong spesialisasi tenaga kerja, meningkatkan pendapatan nasional, dan memperluas perdagangan internasional.
Paradigma Baru dalam Perncanaan Wilayah dan Kota
- Aglomerasi & Klaster: Membahas keterkaitan dimensi geografis, sektoral, dan sosio-ekonomi dalam membentuk klaster industri teknologi tinggi.
- Aktor Utama (Triple Helix): Keberhasilan teknopolis bertumpu pada kepemimpinan yang baik dan sinergi fungsi dari tiga pemangku kepentingan utama, yaitu Pemerintah, Industri, dan Perguruan Tinggi.
- Dampak Litbang: Investasi di sektor Penelitian & Pengembangan (R&D) berdampak langsung pada penemuan teknologi baru, serta dampak tidak langsung pada pertumbuhan ekonomi wilayah.
Teknopolis di Dunia (Studi Kasus Global)
- Karakteristik Kawasan: Menyatukan elemen publik (infrastruktur fisik, litbang) dan privat (perusahaan start-up, UMKM, industri besar).
- Sintesa Preseden Dunia: Menganalisis aktor, saluran komunikasi, pengelolaan, dan ekosistem inovasi dari berbagai wilayah terkenal. Contohnya meliputi Kennispark Twente (Belanda), Greater Boston (AS), Tsukuba (Jepang), Daedeok Innopolis (Korea Selatan), hingga Hsinchu Science Park (Taiwan).
Agenda Teknopolis untuk Indonesia
- Kawasan Sains dan Teknologi (KST): Dikembangkan di Indonesia untuk memfasilitasi hilirisasi penemuan riset menjadi inovasi industri demi meningkatkan daya saing nasional. KST dapat berbentuk zona terintegrasi maupun zona terkoneksi.
- Kerangka Strategis: Memetakan pengembangan wilayah berdasarkan 6 Sektor Prioritas Investasi dan Rencana Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).
- Instrumen Perencanaan: Mengintegrasikan konsep ekosistem cerdas, analisis kesesuaian lahan (aksesibilitas, sediaan lahan, biaya), serta penataan ruang (RTRW/RDTR) untuk merancang pusat kerja baru.
- Langkah Teknis: Diperlukan 6 langkah pengembangan lahan, mulai dari penentuan kawasan, lingkup pembangunan, identifikasi inovasi, penelusuran kebijakan, analisis regulasi, hingga rekomendasi akhir.
Teknopolis dan sebagai Tema Pengembangan Kawasan Berfokus Masa Depan
Berikut adalah penjelasan mengenai pentingnya pembangunan kawasan tematik tersebut, terutama yang behrubungan dengan dua faktor strategis yang melputi peran sentral perguruan tinggi, serta kaitannya dengan Technology Readiness Level (TRL/Tingkat Kesiapan Teknologi) dari ideasi sampai dengan komersialisasi produk atau layanan untuk kepentingan Masyarakat luas.
1. Pentingnya Pembangunan Kawasan Berbasis Iptek
Di era modern, daya saing suatu wilayah tidak lagi hanya bertumpu pada ketersediaan sumber daya alam mentah, melainkan pada ekosistem inovasi. Pembangunan kawasan berbasis iptek penting karena:
- Fasilitator Aliran Penemuan: Menjadi wahana terintegrasi yang memfasilitasi aliran hasil riset murni menjadi produk inovasi bernilai ekonomi untuk memperkuat daya saing industri kecil-menengah.
- Pertumbuhan Ekonomi Wilayah: Investasi di sektor Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di dalam kawasan memberikan dampak langsung berupa penemuan teknologi baru, serta dampak tidak langsung berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pendapatan nasional.
- Efisiensi Efek Aglomerasi: Menyatukan fungsi spasial perkotaan (pusat kerja, infrastruktur fisik, dan hunian) untuk menekan biaya produksi dan distribusi barang.
2. Perguruan Tinggi sebagai Kunci Keberhasilan Kawasan
Dalam konsep Triple Helix (Pemerintah-Industri-Perguruan Tinggi) maupun model aktor kawasan yang dibahas di buku ini, Perguruan Tinggi berkedudukan sebagai jangkar utama (anchor institution) yang menggerakkan ekosistem teknopolis. Peran kunci Perguruan Tinggi meliputi:
- Penyedia Talenta dan Pakar: Perguruan Tinggi menjadi motor pencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas tinggi, peneliti, dan tenaga ahli yang menjadi daya tarik utama bagi industri untuk masuk ke kawasan. Contoh preseden dunia menunjukkan kawasan sukses seperti Daedeok Innopolis di Korea mengumpulkan lebih dari 10% lulusan S3 (PhD) di negaranya di dalam kawasan.
- Pusat Inkubasi Bisnis (Spin-off): Perguruan Tinggi aktif memfasilitasi mahasiswa atau pengusaha muda melalui Business Incubator (BI) untuk mentransformasi teknologi mentah dari laboratorium menjadi perusahaan pemula (start-up) baru. Contoh nyata adalah Kennispark Twente di Belanda yang dipuji karena peran Perguruan Tingginya yang sangat responsif dalam mengubah teknologi menjadi bisnis baru.
- Penyedia Sumber Teknologi: Perguruan Tinggi bertindak sebagai produsen pengetahuan (knowledge producer) melalui kegiatan litbang sains murni, yang kemudian dihilirkan melalui jaringan kolaborasi terarah dengan sektor privat.
3. Kaitan dengan Technology Readiness Level (TRL)
Konsep pembangunan kawasan di dalam buku ini menegaskan bahwa perencanaan produk dan layanan di dalam teknopolis harus dikaitkan secara spesifik dengan capaian TRL. Hubungan Perguruan Tinggi dan TRL di dalam kawasan bekerja sebagai berikut:
- Perguruan Tinggi Menguasai TRL Rendah hingga Menengah (TRL 1–6): Perguruan Tinggi melalui laboratorium risetnya mematangkan konsep dasar teknologi, melakukan pembuktian konsep (proof of concept), hingga pembuatan prototipe awal di lingkungan laboratorium.
- Kawasan Menjembatani “Lembah Kematian” Inovasi (TRL 6–7): Masalah klasik hilirisasi adalah matinya riset Perguruan Tinggi sebelum masuk pasar. Kawasan teknopolis menyediakan lingkungan demonstrasi (demo environments) dan pengujian skala lingkungan operasional agar hasil riset Perguruan Tinggi siap dilirik oleh industri.
- Industri Mengambil Alih TRL Tinggi (TRL 8–9): Melalui integrasi kawasan, sektor industri dan bisnis memanfaatkan riset Perguruan Tinggi yang sudah matang untuk diproduksi secara massal, dikomersialisasikan, dan didistribusikan ke pasar global.
Dengan demikian, tanpa Perguruan Tinggi sebagai pemasok inovasi dan teknologi di level TRL awal, kawasan berbasis iptek hanya akan menjadi kawasan industri manufaktur biasa tanpa adanya pembaruan atau nilai tambah teknologi yang berkelanjutan. Di bawah ini, ilustrasi tentang teknopolis yang dibantu penggambarannya oleh AI.
