Enter your keyword

Memulihkan Kota yang Meletihkan: Mengembalikan Ruang Hidup, Menagih Hak Masa Depan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Oleh : Admin

Kode MK: PL-3201 | Mata Kuliah: Metodologi Penelitian Perencanaan Wilayah dan Kota (S1 PWK ITB) | Bobot: 3 SKS | Prasyarat: Pengantar Perencanaan Perkotaan & Wilayah | Sifat: Peminatan Kritis & Aplikasi Metode Penelitian Spasial-Sosial |
Pengampu: Ridwan Sutriadi

The Reality Check: Mengapa Kita Butuh Kelas Ini?

Pernahkah kalian merasa berjalan di tengah kota yang sibuk, namun merasa makin terasing? Saat biaya hunian meroket tak terjangkau, ruang terbuka publik digeser komersialisasi, dan tiap jengkal tanah dituntut yielding secara finansial—kita sadar bahwa kota sedang mengalami urban burnout. Kota tidak lagi dirancang untuk memulihkan manusia, melainkan mengeksploitasinya.

Masalah ini akar tunggalnya ada pada dikotomi tata kelola konvensional yang kaku: ruang yang jika tidak dikuasai oleh pasar (private goods), dikontrol secara birokratis oleh negara (public goods). Padahal ada jalan ketiga yang terabaikan: Urban Commons.

Urban Commons melihat kota dan desa bukan sekadar komoditas spekulatif, melainkan ruang hidup bersama yang dikelola oleh dan untuk warga (commoning). Mata kuliah Metodologi Penelitian ini dirancang untuk membekali kalian dengan pisau analisis dan alat riset empiris dalam mengidentifikasi, merebut kembali (reclaim), serta merancang ekosistem perkotaan dan perdesaan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Kerangka Metodologi & Fokus Penelitian

Perjalanan riset kita diawali dengan keberanian untuk membedah Enclosure of the Commons melalui kombinasi Spatial GIS Conflict Mapping, Discourse Analysis, dan Documentary Research. Di tahap awal ini, kalian akan mengasah kepekaan spasial dan kritis untuk melacak sejauh mana privatisasi telah merampas ruang publik, mendesak kawasan peri-urban dan perdesaan lewat gentrifikasi, menciptakan krisis keterjangkauan hunian (housing affordability), hingga mengomodifikasi ekosistem alami demi kepentingan jangka pendek.

Setelah mampu mendiagnosis komodifikasi ruang, fokus penelitian kita bergeser pada eksplorasi Institutions for Collective Action. Melalui pisau analisis Institutional Analysis and Development (IAD Framework) serta pendekatan studi kasus komparatif, kita akan menyelami beragam model tata kelola swadaya warga yang selama ini terbukti resilien. Riset kalian akan membedah bagaimana Community Land Trusts (CLT), konsep co-housing, gerakan urban farming kolektif, hingga rantai pasok Community-Supported Agriculture (CSA) yang menghubungkan kota dan desa dapat beroperasi secara adil dan berkelanjutan.

Namun, riset perencanaan tidak boleh berjarak dari realitas tapak. Oleh karena itu, kalian akan terjun langsung menggunakan metodologi Participatory Action Research (PAR) yang dipadukan dengan etnografi perkotaan, eksperimen tactical urbanism, dan lokakarya co-design. Pendekatan ini memungkinkan kita meriset sekaligus merancang intervensi ruang skala mikro yang benar-benar bernapas: menciptakan koridor pejalan kaki (walkable paths) yang aman, merangkul kelompok rentan, serta mengaktivasi kembali third places atau quiet spaces non-konsumtif yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan mental warga kota.

Terakhir, kerangka metodologi kita akan menembus batas fisik dengan menjangkau domain Digital & Knowledge Commons. Mengandalkan data spasial berbasis crowdsourcing, open data analytics, dan pemetaan konektivitas digital, kalian akan menguji bagaimana ketersediaan infrastruktur digital dan community hubs dapat memfasilitasi pola kerja fleksibel (hybrid) serta mendesentralisasi pusat ekonomi. Riset ini menjadi kunci untuk membangun jembatan mobilitas yang setara dan adil antara ruang perkotaan dan perdesaan di masa depan.

Sumber: Orasi Ilmiah Guru Besar ITB : Prof. Ridwan Sutriadi – Institut Teknologi Bandung

Output Pembelajaran & Dampak Nyata

Di akhir semester, riset kalian tidak berhenti menjadi draf skripsi yang tersimpan di rak perpustakaan. Kalian akan menghasilkan Policy & Planning Brief berisi rekomendasi kebijakan berbasis evidence untuk pemerintah daerah dan komunitas, Peta Tematik Incompatible & Common Spaces yang memvisualisasikan ketimpangan serta potensi ruang bersama, serta Proposal Intervensi Spasial (Living Labs) berupa rancangan aksi mikro yang siap diuji di lapangan.

Home
Jadwal dan Acara Tautan Penting Informasi Publik