
Pernah terpikir tidak kalau kota tempat kita nongkrong, berburu spot foto estetik, atau sekadar terjebak macet itu sebenarnya punya “otak” dan direncanakan sedemikian rupa? Kalau mengira tata kota itu cuma soal pasang aspal atau bangun gedung tinggi, tandanya perlu membaca buku Perencanaan Kota Abad 21: Inovasi dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Buku terbitan ITB Press (tulisan Ridwan Sutriadi, pengajar di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, SAPPK ITB) ini bukan tipe buku teks membosankan yang bikin mengantuk, melainkan sebuah panduan utama bagi yang ingin paham bagaimana sebuah kota modern bertahan hidup di tengah gempuran zaman.
Bayangkan hidup di era disruptif sekarang. Masalah lingkungan seperti krisis air, polusi, hingga perubahan iklim sudah di depan mata. Di sinilah buku ini hadir sebagai penyelamat agar cara pandang kita tidak ketinggalan zaman. Pada bab awal, penulis mengajak pembaca membedah ulang arti sebuah perencanaan kota dan apa sebenarnya tanggung jawab menjadi seorang perencana kota di abad ini. Menariknya, peran perencana kota sekarang sudah mengalami perluasan drastis akibat teknologi digital. Mereka dituntut untuk bisa melakukan analisis deskriptif, diagnostik, prediktif, hingga preskriftif demi menghasilkan keputusan tata ruang yang optimal.
Buku ini juga sangat relevan dengan tren masa kini karena mengupas tuntas konsep kota cerdas (smart cities) dan revolusi industri 4.0. Penulis menjelaskan bagaimana ekosistem kota yang kompleks, gabungan dari subsistem sosial, ekonomi, dan alami, dapat pula dioptimalkan menggunakan teknologi. Mulai dari pemanfaatan open data untuk keuntungan ekonomi bersama, hingga pemakaian GPS dan sensor pintar demi efisiensi energi serta air bersih. Tidak ketinggalan, ada pembahasan seru mengenai ekosistem inovasi di sektor publik dan crowdfunding sebagai solusi pembiayaan pembangunan masa kini. Jadi, membangun kota tidak lagi melulu mengandalkan anggaran konvensional yang kaku.
Bagi kaum muda yang peduli isu keberlanjutan atau SDGs (Sustainable Development Goals), bab mengenai “Kecil Itu Indah” bakal membuka mata. Buku ini membuktikan kalau perhatian tata kota modern tidak hanya berpusat pada kota megapolitan besar yang padat. Kota-kota kecil justru punya potensi kemandirian luar biasa, mulai dari pariwisata perkotaan, pertanian urban (urban farming), konsep ecodistrict, hingga ruang kolaborasi digital (digital workplace). Pada akhirnya, buku ini memberikan pesan kuat bahwa untuk mewujudkan kota Indonesia yang inklusif, aman, dan tangguh, dibutuhkan tindakan kolektif dan komitmen dari semua generasi. Membaca buku ini akan mengubah caramu melihat tata kota, dari yang tadinya biasa saja menjadi penuh dengan ide-ide visioner untuk masa depan.
Sebagai penutup, bagi mereka yang berencana atau baru saja terjun ke dunia Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), buku ini bertindak sebagai starter pack sekaligus kompas navigasi paling krusial di era digital. Alih-alih menyuapi pembaca dengan teori jadul yang kaku, buku ini langsung memetakan realitas lapangan bahwa perencana kota modern dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan melek teknologi demi menjawab tantangan perubahan iklim serta target SDGs. Buku ini membekali calon planolog masa kini dengan pemahaman sistemik—mulai dari cara merumuskan kebijakan berbasis data-driven, mengelola ekosistem inovasi kota, hingga memanfaatkan digital workplace—sehingga kamu tidak hanya menjadi penonton, tetapi siap menjadi city builder visioner yang mampu merancang kota inklusif, tangguh, dan adaptif terhadap masa depan.