Arte-Polis 11 Bahas Regenerative Placemaking untuk Menjawab Tantangan Iklim dan Kesejahteraan
Bandung, 20–21 Agustus 2026 — Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi tempat penyelenggaraan Arte-Polis 11: The Biennial International Conference on Creative Architecture & Urbanism, sebuah konferensi internasional yang mempertemukan akademisi, praktisi, perancang, dan pemangku kepentingan untuk membahas berbagai isu mutakhir dalam arsitektur dan urbanisme.
Mengusung tema “Regenerative Placemaking: Harmonizing Well-being and Technology in the Climate Era”, Arte-Polis 11 yang berlangsung pada 20–21 Agustus 2026 di ITB, Bandung, mengangkat gagasan mengenai pentingnya menciptakan ruang dan tempat yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga mampu memulihkan, meningkatkan kualitas kehidupan, serta merespons perkembangan teknologi dan tantangan perubahan iklim.
Konsep regenerative placemaking menjadi semakin relevan di tengah perubahan lingkungan dan perkembangan teknologi yang berlangsung secara cepat. Pendekatan ini mendorong proses penciptaan tempat yang memperhatikan hubungan antara manusia, lingkungan, teknologi, dan konteks lokal, sehingga kawasan yang dikembangkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan ekosistem di sekitarnya.
Arte-Polis 11 menghadirkan sejumlah keynote speakers dari berbagai latar belakang dan negara. Mereka adalah Seah Chee Huang dari DP Architects, Singapura; Gregory Kovacs dari Studio Kovacs, Hong Kong; serta Adrihazim Rashid dari Bukit Dinding, Malaysia. Kehadiran para pembicara internasional tersebut memberikan perspektif yang beragam mengenai praktik arsitektur dan urbanisme serta pengembangan ruang yang lebih adaptif terhadap tantangan masa kini.
Selain sesi keynote, rangkaian Arte-Polis 11 juga menghadirkan Master Class bersama Puri Lestari dari Sinikini Indonesia Lestari. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang lebih mendalam bagi peserta untuk mengeksplorasi gagasan dan praktik dalam menciptakan tempat yang memiliki dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat.
Pembahasan mengenai praktik arsitektur di Indonesia juga dihadirkan melalui sesi Podcast: “Community Engagement in Indonesian Practice”, yang menghadirkan Riangga Yudas, Rahmat Indrani, dan Kamil Muhammad. Sesi ini membahas pentingnya keterlibatan masyarakat dalam praktik arsitektur serta bagaimana proses kolaboratif dapat menjadi bagian penting dalam menghasilkan ruang yang kontekstual dan bermakna.
Arte-Polis 11 turut menghadirkan sejumlah workshop yang melibatkan ARUP, PSUD × ARUP, serta Feysa Poetry & Hamzah Al-Asadulloh. Melalui workshop tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan, metode, dan gagasan secara lebih interaktif.
Selain para keynote speakers dan pengisi program lainnya, konferensi ini juga menghadirkan 10 pembicara terpilih yang membagikan gagasan dan pengalaman mereka mengenai regenerative placemaking. Beragam perspektif yang disampaikan memperkaya diskusi mengenai bagaimana arsitektur dan urbanisme dapat berperan dalam membangun lingkungan yang lebih tangguh, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan.
Penyelenggaraan Arte-Polis 11 di ITB menjadi momentum penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan jejaring internasional dalam bidang arsitektur dan urbanisme. Melalui pertemuan antara gagasan akademik, pengalaman profesional, teknologi, serta praktik berbasis komunitas, konferensi ini membuka ruang dialog mengenai masa depan lingkungan binaan di tengah era perubahan iklim.
Arte-Polis 11 diharapkan dapat mendorong lahirnya gagasan dan praktik baru yang mampu menjembatani kesejahteraan manusia, keberlanjutan lingkungan, perkembangan teknologi, dan karakter lokal dalam proses perancangan serta pengembangan kota dan kawasan.
Dengan semangat regenerative placemaking, Arte-Polis 11 menegaskan kembali peran arsitektur dan urbanisme bukan sekadar dalam membentuk ruang, tetapi juga dalam memulihkan, menghidupkan, dan menciptakan tempat yang memberikan dampak positif bagi manusia dan lingkungan di masa kini maupun masa depan. 🌏🏙️











